Penganggur terdidik, selalu menjadi topik pembahasan yang aktual terkait masalah ekonomi- sosial-pendidikan dan politik di negeri ini.
Apatis, skeptisme bahkan sinisme terlihat dan muncul dari berbagai pihak termasuk masyarakat bahkan dari otoritas pendidikan dan pemerintahan, yang pada posisi seharusnya, mereka pemegang otoritaslah yang harus paham/ bertanggung jawab seperti yang di amanatkan oleh konstitusi.
Problem ini telah bertahun-tahun terus bertambah rumit, dan sebenarnya mereka para penganggur terdidik adalah sebagai produk yang terlahir dari hampir semua Pergurua Tinggi” Tanpa Solusi” ( dan seharusnya otoritas pendidikan/ pemerintahlah yang paling bertanggung jawab).
Jika ada Perguruan Tinggi yang menerapkan solusi bagi lulusannya untuk menjadi Entrepreneur, itu merupakan berita baik, walau patut tetap dipertanyakan bagaimana mengenai efektifitas – efisiensi – nilai ekonomis yang dipereoleh atau dikeluarkan dari masing-masing calon sarjana sekaligus calon entrepreneur terkait tersebut.
Adalah para Pemerhati, Penyelenggara dan Otoritas pendidikan yang berkiprah selama ini, pada dasarnya terbukti tidak mampu mencari Solusi tentang masalah ini, namun mereka/ masing-masing selalu besikeras dengan solusi subyektifitasnya, sedihnya lagi banyak masyarakat yang turut bersikap sinis tanpa tau permasalahan.
Karena itu mulailah kita membuka Nalar dan Intelektual, dengan memulai menerima masukan baru yang aspiratif, dan seterusnya dan seterusnya, atau mereka (yang berposisi dan atau berperan serta terlibat atau terkait saat ini dan selama ini) memang “kepala batu” untuk selalu senang dengan “Tanpa Solusi” tersebut.
Bercerminlah pada slogan-ucapan anda anda yang mengatakan : “Raihlah pendidikan setinggi mungkin, karena anda selaku siswa dan mahasiswa adalah asset sekaligus investasi bangsa “, atau jika tidak, hapus saja kalimat tersebut.