Mengakui mulianya arti seorang ibu, peran ayah, hak suami/ istri/ anak, hak kewajiban seseorang terhadap kerabat/ sahabat/ saudaranya baik yang seiman maupun yang sebangsa, dan amal yang terus digunakan, ilmu yang terus dimanfaatkan serta anak2 kita yang beramal shaleh, itulah tabungan kita yang tiada akan terputus (walau kita sudah meninggal), adalah Nilai Luhur yang telah kita ketahui dan pahami sejak kita masih sekolah dasar/ menengah dulu.
Karena itu maka saya meyakini 100%
bahwa ;
Jika kita seorang Dermawan yang Berkemampuan, pasti kita akan suka cita menerima Ajakan Kebajikan yang tidak merepotkan-tidak memberatkan-tidak-tidak disalah gunakan. apalagi ajakan tersebut datangnya dari ibu/ ayah kita tercinta, atau dari suami/ istri kita terkasih, atau dari anak tersayang kita, atau dari kakak/ adik terdekat kita, atau dari kekasih/ sahabat terpilih kita, atau bisa juga dari atasan/ guru/ saudara dekat kita lainnya.
Walau anda seorang dermawan berkemampuan, Teori tersebut tidak bisa tumbuh hidup, jika anda adalah kapitalis sejati, atau anda adalah atheis sejati, atau anda pemilik kesombongan iblis, atau karena pemimpin suatu negara yang absolut-militeristik anti demokrasi sejati, atau memang anda bodoh.
Semoga anda bisa menerima-setuju dengan Teori Kedermawanan atas Konklusi-Hipotesa saya tersebut, dan sekaligus saya mengundang anda untuk (mengajak saya) berbagi pengetahuan tentang upaya aspiratif – terukur dalam pengentasan pengangguran dan kemiskinan.
Salam